Monday 5 January 2026 - 00:25
Tiga Ciri Penting Pemerintahan Imam Ali (as) Menurut Pakar Ahlussunnah

Hawzah/ Maulawi Ruhul Amin menegaskan bahwa sunnah Amirul Mukminin, Imam Ali (as), melampaui sekadar sejarah, dan dapat dijadikan model praktis untuk menegakkan keadilan, tanggung jawab, dan keteguhan melawan ketidakadilan dalam kepemimpinan saat ini.

Berita Hawzah – Maulawi Ruhul Amin, pakar studi Islam dan Ketua Lembaga AIMAI India, dalam wawancaranya dengan Berita Hawzah menegaskan bahwa kehidupan dan sirah Amirul Mukminin Imam Ali (as) melampaui sekadar warisan sejarah, dan dapat menjadi pedoman praktis bagi kepemimpinan serta pengelolaan masyarakat di era modern. Ia menekankan bahwa orientasi pada keadilan, tanggung jawab, dan keteguhan dalam menghadapi kezaliman merupakan ajaran paling menonjol dalam Nahjul Balaghah serta contoh ideal dari model kepemimpinan tersebut.

Bagaimana Anda menggambarkan Amirul Mukminin Imam Ali (as) sebagai “pemimpin ideal Islam”?

Ruhul Amin: Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih kepada Berita Hawzah atas kesempatan yang diberikan. Imam Ali (as) bukan sekadar seorang penguasa politik; beliau adalah teladan hidup dari kepemimpinan yang berlandaskan keadilan dan ketakwaan. Terdapat tiga karakter utama dalam pemerintahan beliau yang patut dicermati.

  1. Kepemimpinan yang berlandaskan ketakwaan kepada Allah. Imam Ali (as) berulang kali menegaskan bahwa kepemimpinan harus disertai ketakwaan yang mendalam kepada Allah, dan setiap keputusan harus diambil dalam bingkai kesalehan serta keadilan Ilahi.
  2. Kedekatan pemimpin dengan rakyat. Imam Ali (as) secara langsung turun ke pasar, memantau harga, serta mengetahui persoalan dan kebutuhan masyarakat. Interaksi langsung ini menjadi landasan kuat bagi pengambilan keputusan yang adil dan responsif terhadap kebutuhan publik.
  3. Komitmen dan tanggung jawab sosial. Imam Ali (as) pernah bersabda bahwa sebelum mendengar keluhan orang yang lemah, seorang penguasa seharusnya meletakkan jabatannya. Pandangan ini mencerminkan tingkat tanggung jawab dan kepekaan sosial beliau yang sangat tinggi.

Sejauh mana keadilan menjadi poros utama kebijakan dalam pemerintahan Imam Ali (as)?

Ruhul Amin: Keadilan merupakan tulang punggung pemerintahan Imam Ali (as). Salah satu dokumen sejarah yang paling menonjol adalah surat beliau kepada Malik al-Asytar, yang di dalamnya dengan tegas disebutkan agar tidak mencampuri urusan yang tidak dikuasai ilmunya. Surat ini menunjukkan bahwa keadilan tidak hanya ditegakkan di antara sahabat dan pendukung, tetapi juga terhadap lawan.

Sebagai contoh, pernah suatu ketika baju zirah Imam Ali (as) ditemukan di toko seorang Yahudi. Ketika perkara tersebut dibawa ke pengadilan dan tidak terbukti kepemilikannya, meskipun hakim adalah orang yang ditunjuk oleh Imam Ali (as), putusan tetap diberikan kepada pihak Yahudi. Imam Ali (as) menerima keputusan tersebut tanpa keberatan sedikit pun. Peristiwa ini merupakan bukti nyata penerapan keadilan dan penghormatan terhadap hukum.

Pemerintahan Imam Ali (as) merupakan contoh langka dari kepemimpinan yang menginspirasi, berlandaskan ketakwaan, dekat dengan rakyat, dan berkomitmen penuh pada keadilan. Model pemerintahan ini tidak hanya relevan dalam sejarah Islam, tetapi juga menjadi teladan ideal bagi kepemimpinan manusia di dunia saat ini, sekaligus menunjukkan bahwa keadilan dan moralitas dalam politik dapat menjadi pilar utama bagi terbentuknya masyarakat yang adil dan dinamis.

Bagaimana Imam Ali (as) menjaga keseimbangan ekonomi dan keadilan sosial dalam pemerintahannya?

Ruhul Amin: Imam Ali (as) berulang kali menegaskan bahwa harta negara adalah amanah dari Allah SWT. Dengan pandangan tersebut, beliau menerapkan sistem distribusi yang adil dari baitul mal. Bahkan dalam alokasi anggaran untuk anggota keluarga sendiri, prinsip keadilan tetap dijaga secara ketat.

Sebagai contoh, ketika saudara Imam Ali (as) meminta bagian yang lebih besar, beliau menegur dengan berkata, “Apakah engkau ingin hak rakyat dirampas?” Beliau juga menetapkan perhatian khusus bagi kelompok masyarakat rentan seperti fakir miskin, anak yatim, dan para janda, serta menegakkan keadilan dan kejujuran di seluruh lapisan pemerintahan.

Seberapa relevan ajaran ekonomi dan sosial Imam Ali (as) dalam kondisi saat ini, khususnya di negara-negara Islam?

Ruhul Amin: Ajaran-ajaran tersebut sangat aplikatif dan solutif. Jika para pemimpin negara saat ini mempelajari dan menerapkan surat-surat kebijakan Imam Ali (as), mereka dapat secara signifikan mengurangi korupsi, tirani, dan ketimpangan sosial. Imam Ali (as) menegaskan bahwa jika seorang penguasa bersikap sewenang-wenang, negara akan hancur, dan pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat pasti berujung pada kejatuhan. Prinsip-prinsip ini merupakan pesan universal bagi para pemimpin masa kini dan menegaskan bahwa kekuasaan tanpa keadilan dan etika tidak akan pernah bertahan lama.

Menurut Anda, karakter paling menonjol dari Imam Ali (as) yang dapat diteladani para pemimpin saat ini apa saja?

Ruhul Amin: Terdapat tiga karakter utama Imam Ali (as) yang selalu relevan untuk diteladani.

  1. Ilmu dan kebijaksanaan. Imam Ali (as) dikenal sebagai “Pintu Ilmu” dan seluruh keputusan pemerintahannya didasarkan pada pengetahuan, kesadaran, dan pemikiran yang mendalam, yang menegaskan pentingnya ilmu dalam kepemimpinan.
  2. Keberanian dan keteguhan melawan ketidakadilan. Keberanian beliau dalam menghadapi kezaliman tidak tertandingi. Dalam Perang Shiffin, ketika pasukan lawan memblokade akses air dan menyebabkan pasukan kehausan, Imam Ali (as) menegaskan bahwa air adalah hak semua manusia. Keputusan ini mencerminkan keberanian moral dan komitmen terhadap keadilan bahkan dalam kondisi krisis.
  3. Keadilan dan Sikap Mulia: Pandangan Imam Ali (as) terhadap keadilan dan perilaku mulia merupakan contoh luar biasa bagi kepemimpinan saat ini. Menegakkan keadilan dan menghormati hak orang lain, bahkan dalam menghadapi musuh, memberikan pelajaran penting bagi para pengelola dan pemimpin dunia, serta menunjukkan bahwa kekuasaan tanpa keadilan dan etika tidak akan bertahan lama.

Bagaimana generasi muda dapat mengambil inspirasi dari kehidupan dan perilaku Imam Ali (as)?

Ruh al-Amin: Generasi muda sebaiknya mulai dengan mempelajari Nahj al-Balagha, salah satu karya sastra dan filsafat terpenting di dunia. Imam Ali (as) selalu menjadi “sahabat bagi kaum muda” dan percaya pada kemampuan, bakat, serta energi generasi baru. Dari kehidupan dan perilaku beliau, dapat diambil tiga pelajaran utama:

  1. Kepemimpinan berarti tanggung jawab, bukan kemudahan: Kekuasaan dan posisi tidak pernah menjadi alat untuk kenyamanan pribadi, melainkan harus disertai komitmen dan akuntabilitas kepada masyarakat.
  2. Pengetahuan dan ilmu sebagai prasyarat kekuasaan: Tanpa kesadaran dan kebijaksanaan, kekuasaan dapat menimbulkan kehancuran yang paling berbahaya.
  3. Jihad terbesar adalah berdiri melawan tirani dan membela kebenaran: Menghadapi ketidakadilan dan kekuasaan otoriter memerlukan keberanian dan kepatuhan pada prinsip etika.

Penutup

Model kepemimpinan dan pemerintahan Imam Ali (as) bukan sekadar warisan sejarah, melainkan panduan praktis dan penting untuk dunia saat ini dalam hal politik dan pengelolaan masyarakat. Kehidupan dan perilaku beliau menunjukkan bahwa pemerintahan Islam akan stabil dan berhasil jika dijalankan dengan keselarasan antara keadilan, kemanusiaan, dan kebijaksanaan. Ajaran Ali (as) membuktikan bahwa kepemimpinan yang bersifat ilahi dan etis dapat menjadi teladan tak tertandingi untuk membangun masyarakat yang adil, manusiawi, dan dinamis.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha